Titip Rindu Buat Ayah
Pagi itu aku seperti baru lahir kedunia yang begitu fana .
Dunia yang amat tak diinginkan oleh siapapun didunia ini ,Selaksa peristiwa tak
bisa ku lihat dan kusimpan dimemoriku layaknya remaja diluar sana.
Sosok malaikat yang
tuhan titipkan kepadaku . Sosok yang tegar,bertanggung jawab,dan selalu
mengajari serta menjagaku Aku biasa memanggilnya dengan Sebutan AYAH. Sosok
yang telah merasakan pahit manisnya hidup didunia kini membaginya dikehidupanku
. Aku hanyalah anak yang beruntung masih bisa menyentuh yang namanya bumi,bisa
mendengar suara yang berbicara tetapi aku tak bisa melihat apa yang mereka
lihat yaa aku hanya anak buta tak berdaya.
Saat harus menikmati hidup layaknya remaja diluar sana aku
hanya berdiri diam dan merenung sambil memegang tongkat yang menjadi teman
hidupku saat itu. Ayahpun berangkat kerja seperti biasanya seorang pemulung yang
berkeliling komplek untuk mencari botol” bekas seperti biasanya. Ayah pun pamit
kepadaku ( ayah pergi dulu ya jaga rumah jangan kemanamana asalamualaikum “sambil
bersalam kepada ayah”) . Setelah itu aku masuk kembali kedalam rumah dengan
tongkatku yang selalu menemaniku , aku kembali menyapu saat itu rasa sedih kembali
menyapa aku . Aku selalu ingat pengorbanan ayah yang selalu
menyemangatiku ,Menjagaku,membesarkanku ,dan mengajariku apa yang aku tak tau. Dan saat itupula aku kembali
bertanya kepada tuhan dengan nada marah dan sedih . Tuhan ?? Mengapa aku
diciptakan seperti ini tuhan ??Bahkan aku tak tau sosok yang membesarkanku dan
merawatku saat ini!! Hanya suara yang dapat aku dengarkan , Bukankah aku hanya
menyusahkan orang disekelilingku tuhan !! aku malu akan semua kekuranganku yang
menyulitkan mereka dengan (duduk dan menangis). Aku malu tuhan !! bahkan aku
tak berdaya ketika ayah sakit , tubuhnya yang telah lemah dan tak berdaya ini
hendaknya istirahat dimasa tuanya . Sedangkan ku hanya diam dirumah , untuk apa
kau memberikan nyawa ini kepadaku tuhan ?? saat itu pun aku berhenti dan
tertidur tersandar didinding.
Senja pun menyelimuti
hariku dan berganti malam kelak itu .Terdengar suara ketukan pintu , dan
bernar ternyata itu ayah . aku kedepan dan membukan pintu dan menyanyakan ayah
(bagaimana ayah dapat banyak botol bekasnya?? Ayahpun menjawab iya nak (dengan
terdengar hembusan nafas yang amat lelah . Aku dan ayah pun masuk rumah dan
istirahat digubuk kami . Kembali aku duduk
termenung dikasurku , bagaimana sosok
malaikat ku ?? ingin sekali aku melihatnya tersenyum,dan melihanya ketika tidur
larut dan terlarut aku pun tertidur.
Keesokan paginya , ayah pergi bekerja seperti biasanya tanpa
pamit , ketika aku bangun dari tidur dan aku memenggil”nya “ ayah ayah “ kemana
ayah yaa?? Kok udah tidak ada ?? Mungkin sudah berangkat kerja , tapi kok tak
seperti biasanya ayah tak pamit kepadaku ?? Lalu aku mengambil sapu seperti
biasanya menyapu teras ( sudah bersih mungkin aku lalu bergegas kedalam dengan
tongkatku).
Mentari kembali berdiri tegak diatas kepalaku dan aku hanya
duduk menggu ayah datang ,baru saja aku duduk lalu (aku mendengar ketukan pintu yang begitu
keras dengan disertai orang ramai ) aku bergegas menuju pintu depan untuk membukanya , Ternyata orang ramai
mengantarkan sosok malaikatku yang terbaring tak bernyawa tertabrak mobil yang
melintas tanpa memandang aturan lalu lintas . Aku pun lalu duduk menangis menyanyakan mengapa ayah ?? mengapa ??,
memanggil ayah untuk bangun kembali hidup menemaniku (ayah bangun yah aku mohon
bangun), menggoyangkana agar bangun dan bangun menangis tanpa batas waktu hanya
ingin ayah kembali bangun dan menemaniku saat itu , hanya air mata yang mampu kuteteskan
. Memegang raut wajahnya dan memeluknya dan berbisik kepadanya ( ayah walalupun engkau tak ada lagi disisiku
engkau tetap menjadi malaikan tanpa sayap dihidupku) beranjak kepemakaman hanya
besit nama yang masih ada di hatiku akupun mengucapkan kata yang selalu ayah
ucapkan kepadaku ( Bersyukurla selagi hidupmu berguna untuk membantu orang lain
akan ku ingat katakatamu Malaikat Tanpa Sayapku ) , Hanya doa serta rindu mendalam
yangku titipkan untukmu semoga aku
bertemu denganmu melaluli mimpi indahku ayah dan aku bergegas pergi
meninggalkan pemakaman malaikan tanpa sayapku.
Written
Iga Ayu Oktavia
Written
Iga Ayu Oktavia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar